Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Saturday, 27 August 2016

Gambang Kromong Seni Betawi

Seni Gambang Kromong. [detiknews]

Bagi masyarakat Betawi, Gambang Kromong merupakan seni musik yang telah ada dan masih terjaga keberadaaannya sampai sekarang ini walau pun hingar-bingar Kota Metropolitan sedikit menutup akses pelestarian seni musik tradisional yang satu ini. Pemerintah DKI terus berupaya untuk tetap melestarikan seni Gambang Kromong karena dianggap mempunyai nilai seni maha karya dan sudah menjadi simbol bagi masyarakat Betawi dari dulu sampai sekarang.
Tak baik bagi kita hanya mendengar tanpa mengenal lebih dekat Gambang Kromong, melalui tulisan ini diharapkan semua anak bangsa mengerti dan memahami betapa penting Gambang Kromong bagi perjalanan sejarah bangsa.

Gambang kromong terdiri dari beberapa instrumen musik utama, yaitu :

  1. Gambang (silofon) dengan 18 nada yang dilaras/tangga nada pentatonic dengan panjang tiga setengah oktaf;
  2. Sepuluh buah gong kettle kecil (kromong) yang dilaras pentatonic sepanjang 2 oktaf
  3. Sebuah tehyan alat musik yang berasal dari Tionghoa yang cara memainkannya digesek.
  4. Sebuah flute/seruling yang berasal dari Tionghoa
  5. 2 buah gong gantung(kempul dan gong) kendang, dan kecrek, instrument tersebut adalah asli Indonesia
  6. Satu atau lebih gitar elektrik sebagai bass mampun melodi
  7. Satu atau lebih alat musik barat seperti trompet, clarinet saxofon, keyboard instrumen tersebut berasal dari barat.
Masyarakat pemilik/pendukung kesenian ini adalah masyarakat Tionghoa keturunan dari perkawinan campur Tionghoa-Pribumi, dan milik masyarakat Betawi asli yang saat ini mulai bergeser dari pusat Jakarta ke pingiran Jakarta seperti Bogor utara dan Tangerang.
Masyarakat keturunan Tionghoa disini adalah orang Tionghoa yang berasal dari Hokkian dari daerah Fujian di sebelah selatan Tiongkok yang datang ke Batavia/Jakarta dan melakukan perkawinan dengan masyarakat pribumi (betawi). Sedangkan masyarakat betawi adalah berasal dari hampir seluruh wilayah di Indonesia yang dibawa oleh pemerintah colonial sebagai budak dan ada yang sengaja datang untuk bekerja atau berdagang. Karena pada masa itu pelabuhan di Batavia/Jakarta adalah pelabuhan teramai dan menjadi sebuah pusat perdagangan sangat sibuk.
Lalu kelompok para pendatang inipun menetap di Batavia dan hidup dalam sebuah perkampungan besar yang dihuni oleh beragam etnis lalu lahirlah kesenian yang dinamakan Gambang Kromong sebuah seni tradisi yang unik karena terjadinya alkulturasi budaya Tionghoa dan masyarakat pribumi dari latar belakang budaya yang berbeda pula. 
Hingga saat ini kesenian gambang kromong masih dipentaskan dalam acara-acara perkawinan maupun pertunjukan lenong/teater rakyat. Kehidupan harmonis antara masyarakat keturunan/tionghoa dengan masyarakat pribumi tercermin dari kesenian Gambang kromong yang merupakan produk budaya bersama, sehingga kita teramat sangat prihatin dengan gesekan-gesekan social antara warga pribumi dengan masyarakat non pribumi seperti yang terjadi pada tahun 1998 karena peristiwa tersebut telah mengkianati persaudaraan yang telah terjalin ratusan tahun yang lalu yang diajarkan oleh nenek moyang kita. Semoga kita dapat belajar dari sejarah bahwa pluralisme dan keberagaman itu indah. Naga dan Garuda dapat bahu membahu menapaki perjalanan waktu.



Thursday, 25 August 2016

Sasando dari Pulau Rote


Si Jacko maestro Sasando
Alat musik Sasando pernah menyentuh hati Saya beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya baru pertama kali mengenal Sasando dan mendengar suara dawai yang dimainkan oleh pemuda dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Barat. Kemerduan Sasando sampai sekarang masih sangat dirindukan.

Tidak hanya Taman Nasional Komodo atau Pulau Bali yang mengharumkan nama pertiwi di mancanegara, namun sejuta pesona Budaya Flobamora yang patut kita apresiasi adalah Alat Musik Sasando dan topi Ti’i Langga. Keunikan alat musik ini telah menyita perhatian khusus dari beberapa negara diantaranya adalah Jepang yang secara khusus mengundang seniman kita baik sebagai Pembuat atau sebagai Musikus Sasando untuk menggelar pertunjukan Musiknya di bumi Sakura.


Alat musik tradisional yang berasal dari Rote Ndao-Nusa Tenggara Timur ini tergolong alat musik kontemporer. Dimainkan dengan cara dipetik pada dawai yang terbuat dari kawat halus. Bentuknya tergolong sangat unik; bagian utama dari Sasando berbentuk seperti Harpa. Resonatornya terbuat dari daun pohon Lontar yang berlekuk-lekuk menyerupai wadah penampung air bagi masyarakat tradisional Rote. Susunan notasinya bukan beraturan seperti alat musik pada amumnya, melainkan memiliki notasi yang tak beraturan dan tidak kelihatan karena terbungkus.

Sasando dimainkan dengan dua tangan dari arah yang berlawanan, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi untuk memainkan melodi dan bass, sedangkan tangan kanan bertugas memainkan accord. Itulah uniknya Sasando yang membedakan ia dengan alat musik lainnya karena seseorang dapat memainkan sekaligus melodi, bass dan accord.

Alat musik tradisional masyarakat Rote itu telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menghasilkan suara kombinasi dari tiga alat musik; harpa, piano, dan gitar plastis. Sasando bukan sekadar harpa, piano, atau gitar tetapi tiga alat musik dalam satu rytm, melodi, dan bass. Jadi meskipun merupakan alat musik tradisional, universalitasnya sasando berlaku menyeluruh.

Alat musik masyarakat Rote itu tergolong cordophone yang dimainkan dengan cara petik pada dawai yang terbuat dari kawat halus. Resonator sasando terbuat dari daun lontar yang bentuknya mirip wadah penampung air berlekuk-lekuk.

Sasando dimainkan dengan dua tangan dari arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan bertugas memainkan accord. Sasando di tangan pemain ahlinya dapat menjadi harmoni yang unik. Sebab hanya dari satu alat musik, sebuah arkestra dapat diperdengarkan.

Sayang, sasando ibarat masterpiece maestro yang terpendam dan nyaris punah. Alat musik luar biasa itu terancam tinggal cerita manakala di tempat asalnya sendiri telah menjadi sesuatu yang asing.

Sasando memang menyimpan kisah haru. Alat musik ciptaan dua pendeta asal Pulau Rote itu kini hanya dapat dipetik oleh delapan orang yang menjadi generasi terakhirnya, Jacko H.A. Bullan boleh jadi merupakan salah satu generasi terakhir pewaris sasando Rote. Jack mengaku prihatin dengan kenyataan yang ada bahwa pendahulu mereka hampir tidak mewariskan bukti sejarah sasando dari Pulau Rote kepada penerus mereka, tidak ada literatur tersedia sebagai bekal generasi penerus untuk mempelajari seni dan budaya mereka.

Akhirnya, harapan kita besok lusa hadir beribu-ribu pemuda Pulau Rote berjuang bersama Jack untuk melestarikan Sasando. Salam Pustaka Budaya!