Showing posts with label suku dayak. Show all posts
Showing posts with label suku dayak. Show all posts

Friday, 26 August 2016

Dayak Pesonamu, Amazing!


Pesona Suku Dayak yang memukau
Satu dari sekian ribu suku di tanah ibu pertiwi Indonesia adalah Dayak yang keberadaan aslinya ada  di Pulau Kalimantan. Suku Dayak merupakan penduduk yang mendominasi populasi di hampir seluruh wilayah Pulau Kalimantan. Menurut bahasa lokal Kalimantan, Dayak berarti orang yang tinggal di hulu sungai. Masuk akal memang, karena memang suku Dayak bertempat tinggal pada hulu-hulu sungai besar di Kalimatan.

Bagi kita yang bukan penduduk asli Kalimatan, beranggapan bahwa suku Dayak hanya ada satu jenis saja, sungguh salah besar! Sebenarnya mereka terbagi ke dalam banyak sub-sub suku. Menurut hasil penelitian para ahli dan pakar terdapat sekitar 405 sub suku Dayak yang memiliki kesamaan sosiologi kemasyarakatan namun berbeda dalam adat-istiadat, budaya dan bahasa yang digunakan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh terpencarnya masyarakat Dayak menjadi kelompok-kelompok kecil dengan pengaruh masuknya kebudayaan luar.

Selain itu, Suku Dayak juga terbagi ke dalam Dayak Muslim dan Non Muslim. Yang termasuk Dayak Muslim adalah Suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Bukit, Suku Dayak Sampit, Suku Dayak Paser, Suku Dayak Tidung, Suku Dayak Melanau, Suku Dayak Kedayan, Suku Dayak Embaloh, Suku Dayak Sintang, Suku Dayak Sango dan Suku  Dayak Ngabang.

Sedangkan suku Dayak Non Muslim jumlahnya lebih banyak lagi. Yaitu Suku Dayak Abal, Suku Dayak Abai, Suku Dayak Banyadu, Suku Dayak Bakati, Suku Dayak Bentian, Suku Dayak Benuaq, Suku Dayak Bidayuh, Suku Dayak Darat, Suku Dayak Dusun, Suku Dayak Dusun Deyah, Suku Dayak Dusun Malang, Suku Dayak Kenyah, Suku Dayak Lawangan, Suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Mali, Suku Dayak Mayau, Suku Dayak Meratus, Suku Dayak Mualang, Suku Dayak Ngaju, Suku Dayak Ot Danum, Suku Dayak Samihim dan lain-lain yang diperkirakan jumlahnya mencapai tiga ratus sub suku.

Setiap sub suku Dayak memiliki budaya yang unik dan memberi ciri khusus pada komunitasnya. Misalnya tradisi memanjangkan telinga yang dilakukan oleh wanita suku Dayak Kenyah, Kayan dan Bahau. Lalu ada juga tradisi kayau atau perburuan kepala tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi musuh suku Dayak Kendayan.

Mengulas suku satu ini, teringat saya ketika ada kegiatan expo di kota Solo tahun 2008, dimana saya berkenalan dengan salah seorang gadis Suku Dayak, yang tidak pernah salah lupa, orangnya cantik dan lemah lembut serta berpakaian lengkap dengan aksesoris khas Dayak yang sangat memukau. Kapan bisa ke Kalimantan ya?

Mandau, Senjata Khas Dayak sebagai Simbol Kehormatan dan Jatidiri


'Mandau' Karya Agung Suku Dayak
Suku Dayak merupakan suku asli Kalimantan, salah satu senjata tradisional suku Dayak adalah Mandau. Mandau adalah senjata tajam sejenis parang. Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau. Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat keampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi Ngayau (pemenggalan kepala lawan). 

Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya digunakan untuk menghias gagangnya. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi.

Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jatidiri). Mandau juga merupakan alat bertani dan membuka ladang dalam setiap kegiatan bercocok tanam suku Dayak. Dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti perang antar suku, pengayauan atau kegiatan mencari kepala manusia, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara lainnya.

Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat keampuhan atau kesaktian masing-masing tergantung dari si pemilik Mandau tersebut. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-19) semakin banyak orang yang berhasil di-ayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-ayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti.

Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan kini juga digunakan sebagai alat untuk berladang dan bertani. Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang dan ujungnya runcing. Salah satu sisi mata bilahnya berujung diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul.

Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang mengandung bijh besi dan dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam. Namun kini Mandau lebih sering dibuat dengan menggunakan besi baja yang mudah didapatkan seperti besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya.

Tak jarang Mandau juga diberi hiasan dengan sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu. Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin atau kayu besi yang memiliki kualits panas yang sangat tinggi dan stabil.

Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya kepala korban yang pernah dipenggal mandau tersebut.

Gagang Mandau atau hulu mandau terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Namun, tidak jarang juga menggunakan katu berkualitas yang keras dan tidak mudah pecah. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti kepala naga, paruh burung, pilin, dan berbentuk kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia yang telah menjadi korban. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku yang membuat, serta status sosial pemiliknya.

Sarung mandau atau kumpang atau warangkanya biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, serta manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga biasa dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakatnya. Nilai-nilai itu antara lain tercermin dalam keindahan seninya, ketekunan pembuat atau penciptanya, ketelitian, dan kesabaran.

Huh, begitu menariknya menapaktilasi kekayaan budaya nusantara, kembali saya mengajak kepada seluruh anak bangsa, mari kita lestarikan budaya nusantara. Kepada seluruh saudaraku Suku Dayak, warisi semua ini. I Love Dayak!

Thursday, 25 August 2016

Corak Khas Pakaian Adat Suku Dayak Kenyah

Suku Dayak Kenyah

Penulis merasa bingung, koq mengulas soal Dayak tidak ada bosan-bosannya. Mungkin terlalu banyak pesona yang luar biasa membuat penulis bersemangat untuk menuangkan inspirasi ke dalam sebuah cerita yang menarik. Kali ini penulis mengajak pembaca blog untuk mengenal pakaian adat Suku Dayak Kenyah.

Bukan isapan jempol, jika banyak orang bilang kalau seorang gadis dayak mengenakan pakaian adat terlihat begitu anggun dan indah dilihat, kalau seorang pemuda dayak yang mengenakannya terlihat begitu gagah dan berwibawa. Setuju sekali!

Corak khas Suku Dayak Kenyah yang terbentuk dari susunan manik-manik beraneka warna tampak kontras menghiasi kain hitam, yang dipakai sebagai bahan dasar pakaian adat itu. Sehingga menunjukkan makna suku Dayak yang memanfaatkan alam dengan arif di kehidupan sehari-hari. 

Menurut cerita dari teman saya dari Kutai Kartanegara, ada sebuah desa disana yang masih kental dengan budaya, dimana saat musim panen tiba semua masyarakat mengenakan pakaian adat mereka. Seru ya dan mungkin kalau saya yang lihat, ugh...

Kenyah ada yang untuk perempuan yang dinamakan Ta’a dan Sapei sapaq untuk laki-laki. Ta’a terdiri dari tutup kepala yang terbuat dari pandan biasanya diapakai untuk orang tua. Atasan atau baju dinamakan sapei inoq dan bawahannya atau rok disebut ta a. Atasan dan bawahan ini semuanya dihiasi dengan manik-manik. Wanita yang memakai ta’a ini biasanya melengkapi dengan uleng atau hiasan kalung manik yang untaiannya sampai bawah dada.

Sedangkan Sapei sapaq yang dikenakan laki-laki pada umumnya hampir sama dengan motif pakaian adat perempuan. Namun Sapei sapaq atasannya dibuat berbentuk rompi, dan bawahannya adalah cawat yang disebut abet kaboq. Biasanya para pria melengkapi sapei sapaq dengan mandau yang terikat di pinggang.