Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Friday, 9 September 2016

Benteng Marlborough


Benteng Marlborough.
Benteng Marlborough (Fort Marlborough) merupakan salah satu obyek wisata sejarah dan budaya andalan yang dimiliki oleh Kota Bengkulu. Benteng peninggalan Inggris awal abad ke-18 ini dibangun oleh East Indian Company (sebuah usaha dagang Inggris terbesar di Nusantara waktu itu) selama kurang lebih enam tahun (tepatnya pada tahun 1713—1719) di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet ketika berkuasa di Bengkulu. Secara keseluruhan, benteng yang bangunannya menyerupai kura-kura ini berdiri di atas tanah seluas sekitar 44.100 meter persegi dan menghadap ke arah selatan.

Secara historis, Benteng Marlborough dianggap sebagai peninggalan terbesar Inggris di Indonesia. Meskipun latar belakang pembangunan benteng ini adalah untuk kepentingan pertahanan/militer, namun seiring berjalannya waktu, Benteng Marlborough kemudian juga difungsikan untuk kepentingan perdagangan. Benteng ini dijadikan sebagai tempat koordinasi bagi kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East Indian Company, dan pusat pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.

Selain itu, benteng yang pernah digunakan sebagai tempat penahanan Bung Karno ini juga digunakan sebagai tempat tinggal oleh para petinggi militer Inggris dan pegawai East Indian Company. Dalam catatan British Library, pada tahun 1792 terdapat kurang lebih 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam benteng ini. Secara fungsional, benteng ini akhirnya lebih menyerupai hunian dalam sebuah kota kecil daripada pusat pertahanan militer atau kantor perdagangan. Hal ini dapat dilihat dari catatan-catatan yang terkait dengan perkawinan, pembaptisan, dan kematian, yang masih tersimpan rapi di dalam benteng ini.

Wednesday, 7 September 2016

Danau Dendam Tak Sudah

Danau Dendam Tak Sudah (photo : adieb)
Di Kota Bengkulu, terdapat sebuah danau indah yang disebut Danau Dendam Tak Sudah, yang oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Danau yang terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya ini telah mengalami beberapa kali perluasan area.

Pertama, tahun 1936, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan ini sebagai cagar alam melalui Stb 1936 No. 325 tanggal 17 Juni 1936 dengan luas 11,5 hektar. Kedua, tahun 1979, berdasarkan Surat Gubernur Bengkulu No. 1666/B4-1/1979 tanggal 15 Mei 1979, kawasan ini dipeluas menjadi 430 hektar. Ketiga, tahun 1999, melalui SK Menteri Kehutanan No. 420/Kpts-II/1999 tangal 15 Juni 1999, kawasan cagar alam Danau Dendam Tak Sudah bertambah luas menjadi 577 hektar.

Kawasan Danau Dendam Tak Sudah merupakan kawasan cagar alam yang memiliki keindahan alam yang mempesona dan menyimpan banyak potensi bagi kelestarian ekologi dan keseimbangan ekosistem. Danau yang dikelilingi bukit-bukit berhutan lebat ini merupakan habitat utama bagi tumbuhan endemic langka, yaitu anggrek pensil (Vanda hookeriana). Pada tahun 2003, Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kota Bengkulu, menyebutkan ada lima fungsi utama yang diperankan oleh Danau Dendam tak Sudah, yaitu: (1) sebagai kawasan konservasi bagi keanekaragaman hayati; (2) sebagai sumber air yang digunakan untuk keperluan irigasi; (3) sebagai daerah cadangan air; (4) sebagai media pembelajaran alam untk kepentingan ilmiah; dan (5) sebagai tempat rekreasi.

Di danau ini juga hidup beberapa jenis ikan langka yang berasal dari famili Anabantidae, yaitu Trichogaster trihopterus, Helstoma termminchi, Trichogaster pectoralis, Anabas testudieus, dan Polcampus hasselti, dari famili Bagridae yaitu Mystus sp, dan dari famili Cyprinidae yaitu Mystacoleucus marginatus dan Rasbora sumatranus.

Thursday, 1 September 2016

Misteri Dibalik Keperkasaan Marlborough



Bangunan Benteng Marlborough [photo : adieb]
Usia boleh tiga abad, bencana boleh datang silih berganti. Namun keperkasaannya masih memperkaya khasanah situs peninggalan bersejarah di Indonesia. Siapa dia? Dia adalah Benteng Marlborough yang menjadi salah satu kebanggaan bagi Kota Bengkulu. Warisan bangunan kuno peninggalan Inggris terbesar di Indonesia itu bukan hanya legendaris dan populer namun juga menyimpan misteri.

Pada 2000 misalnya, kota Bengkulu digoyang gempa bumi tektonik kuat berkekuatan 7,3 skala Richter. Akibatnya, ribuan rumah penduduk, sekolah, dan perkantoran roboh. Sarana dan prasarana kota Bengkulu juga hancur dihantam gempa.

Tujuh tahun setelah itu, Bengkulu kembali dihantam gempa bumi dahsyat. Bencana alam kali ini diikuti tsunami setinggi 3,5 meter. Namun benteng yang dibangun Inggris pada tahun 1714 itu tetap berdiri kokoh. Benteng ini sangat perkasa dalam menghadapi gempa bumi yang memang kerap terjadi di Bengkulu.Walapun terus digoyang. Marlborough tak bergeming sedikit pun. 


Kondisi ini jelas menyimpan misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Apalagi konstruksi benteng ini, secara ilmiah dalam sudut pandang bangunan modern, tidak tahan gempa. Benteng ini ndak memiliki konstruksi beton bertulang.

Dengan kata lain, tak ada tiang-tiang dan kolom besi yang dicor dengan semen sebagaimana halnya dengan standar bangunan tahan gempa masa kini. Dindingnya hanya terbuat dari susunan bata merah. Ketebalan dindingnya bervariasi, antara 50 sentimeter sampai 1,8 meter. Bahkan, di bagian luar, ketebalan dindingnya mencapai tiga meter.Bahari bangunan yang dipakai juga sederhana untuk ukuran masa kini, yakni berupa baru karang, batu kali, dan bata merah dengan perekat menggunakan campuran kapur, pasir, dan semen merah. Pintu-pintunya terbuat dari kombinasi antara besi (sebagai tulang) dan papan kayu.

Tapi itulah uniknya, gempa tak mampu meluluhlantakkan keperkasaan bangunan kuno seluas 2,7 hektare. Semua bagian benteng mulai dari ruang penyimpanan senjata, barak pasukan, ruang jaga, sel militer, dan lain-lain tetap utuh. Keperkasaan ini semakin menguatkan cerita mistis yang beredar di balik benteng yang dibangun semasa Gubernur Joseph Callet berkuasa. Klop sudah karena Inggris memang salah satu negara di dunia yang amat terkenal dengan alam gaibnya. Rumor yang beredar di masyarakat Bengkulu, benteng ini dihuni oleh mahluk gaib. Beberapa pengunjung yang membidikkan kameranya di beberapa ruang tertentu kerap mendapati sinar aneh yang terekam dalam foto tersebut.

Terlepas dari rumor tersebut, Marlborough memang menyimpan kisah unik mengenai sepak terjang Inggris di Bengkulu. Bengkulu tempo dulu merupakan ibukota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di sepanjang pesisir barat Sumatra yang meliputi Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Semua kegiatan administrasi dikendalikan di Benteng Marlborough yang selesai dibangun pada tahun 1783.Bukan hanya itu. Benteng ini juga sekaligus dipakai sebagai sistem pertahanan bagi tentara Inggris dari serangan musuh-musuhnya. Benteng yang menghadap Samudra Hindia ini memang sangat strategis dalam memantau pergerakan musuh yang menyusup dari arah laut tersebut.

Di bagian paling atas benteng misalnya, kini kita dapat memandang betapa luasnya Samudra Hindia. Apalagai di kala sunset, tempat ini paling cocok untuk menikmati keindahan wama lembayung nan lembut dengan panorama penuh eksotis.Berkelana di kawasan Marlborough seluas 4,4 hektare memang mengasyikkan. Kita akan dibawa ke masa lalu yang penuh dengan dinamika. Beberapa meriam tercanggih pada masanya dipajang di berbagai tempat, seperti di bagian atas, halaman dalam, dan taman-taman. Begitu memasuki benteng, koleksi berbagai senjata meriam itu langsung menyergap pandangan.

Strategi pertahanan perang yang didesain tentara Inggris memang taktis. Sebelum memasuki gerbang utama (great gate) benteng, harus melewati dua jembatan kayu yang di bawahnya berupa parit yang dulunya selalu tergenang air. Jembatan ini tadinya bisa diangkat dan diturunkan sesuai kebutuhan. Kini, jembatan kayu itu tak bisa lagi diangkat dan diturunkan.Jika musuh datang, jembatan itu diangkat untuk menghambat musuh agar tidak merangsek ke dalam benteng. Kalaupun musuh masih dapat melewati parit, mereka juga harus berjuang ekstra keras. Pasalnya, benteng ini menggunakan sistem pertahanan berlapis.

Berada di dalam benteng, memang terasa unik. Benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertahanan semata. Lebih dari itu,benteng itu laksana sebuah kompleks hunian di tengah kota.

Konon gubernur, para petinggi, dan pegawai, termasuk militer yang berjumlah 90 orang bermukim dan berkantor di dalam benteng yang memang sangat luas. Mereka seperti layaknya hidup bermasyarakat. Terbukti berbagai catatan mengenai kelahiran, pembabtisan, perkawinan, hingga kematian dari para penguhuninya itu dapat kita lihat karena masih terdokumentasi.m dengan baik.Empat batu nisan berukuran besar diletakkan di salah satu dinding. Di situlah para petinggi Inggris dimakamkan. Sebut saja Deputi Gubernur Richards Watts. Lalu, tak jauh dari situ juga terdapat makam Residen Thomas ParT yang terbunuh pada Desember 1807 dan Sekretarisnya Charles Murray.

Anda penasaran untuk melihat dari dekat keunikan dan keperkasaan Benteng Marlborough? Silakan jelajahi pesonanya. Apalagi akses menuju ke bangunan peninggalan kolonial Inggris itu sangat mudah, hanya berjarak 600 meter dari Rumah Dinas Gubernur Bengkulu atau sekitar tiga kilometer dari Kawasan Simpang lima, Kota Bengkulu.

Wednesday, 31 August 2016

Urut Kegiatan Ritual Tabot


Tabot Tebuan
       1)      Mengambik tanah (mengambil tanah)
Tanah yang diambil harus mengandung unsur-unsur magis oleh karena itu harus diambil dari tempat keramat. Di Bengkulu, hanya ada dua tempat yang dianggap keramat yaitu di Keramat Tapak Padri yang terletak di tepi laut tidak jauh dari Benteng Marlborough di sudut kanan Pelabuhan Laut Bengkulu dan Keramat Anggut yang terletak di pemakaman umum Pasar Tebek dekat Tugu Hamilton, tidak jauh dari Pantai Nala. Upacara ini berlangsung pada malam tanggal 1 Muharam, sekitar pukul 22.00 WIB.
Tanah yang diambil disimpan di Gerga (pusat kegiatan/markas kelompok Tabot bersangkutan), dibentuk seperti boneka manusia dan dibungkus dengan kain kafan putih, lalu diletakkan di Gerga. Gerga tertua di Bengkulu hanya ada dua, yaitu Gerga Berkas dan Gerga Bangsal. Keduanya telah direnovasi dan kini berwujud bangunan permanen.
Di kedua tempat tersebut, mereka memberikan sesajen berupa: bubur merah dan bubur putih, gula merah, sirih 7 subang, rokok nipah 7 batang, kopi pahit 1 cangkir, air serbat 1 cangkir, dadih (susu sapi murni yang mentah) 1 cangkir, air cendana 1 cangkir, air dan selasih 1 cangkir.


2)      Duduk Penja (mencuci jari-jari)
Penja adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Karenanya penja ini disebut juga dengan jari-jari. Menurut keluarga Sipai, Penja adalah benda keramat yang mengandung unsur magis. Ia harus dicuci dengan air limau setiap tahunnya. Upacara mencuci penja ini disebut duduk Penja, yang dilaksanakan pada tanggal 5 Muharram sekitar pukul 16.00 WIB.
Pada acara Penja ini, peralatan yang dibutuhkan adalah: air kembang, air limau nipis, sesajen, dan penja yang akan dicuci. Sesajen yang dipersiapkan terdiri: nasi kebuli 1 porsi, emping beras 1 piring, pisang emas 1 sisir, tebung 1 potong, kopi pahit 1 gelas, air serobat 1 gelas, dan dadih 1 gelas.

3)      Menjara (mengandun)
Menjara adalah berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk beruji/bertanding dol, sejenis beduk yang terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya serta ditutupi dengan kulit lembu.
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 Muharram mulai pukul 20.00 atau 23.00 WIB. Pada tanggal 6 Muharram, kelompok Tabot Bangsal mendatangi kelompok Tabot Berkas sedangkan pada tanggal 7 Muharram kelompok Tabot Berkas mendatangi kelompok Tabot Bangsal. Kegiatan ini berlangsung di halaman terbuka yang disediakan oleh masing-masing kelompok.

4)      Meradai (mengumpulkan dana)
Meradai adalah pengambilan dana oleh Jola (bahasa Melayu artinya orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan) yang terdiri dari anak-anak berusia 10-12 tahun. Acara ini dilakukan pada siang hari tanggal 6 Muharram antara pukul 07.00-17.00 WIB. Lokasi pengambilan dana biasanya sudah disepakati bersama oleh masing-masing kelompok Tabot. Peralatan yang dibutuhkan diantaranya adalah: bendera panji, tombak bermata ganda, tas atau kambut, karung gandum, dan tessa.

5)      Arak Penja (mengarak jari-jari)
Arak Penja atau arak jari-jari merupakan acara mengarak jari-jari yang diletakkan di dalam Tabot dengan di jalan-jalan utama di kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan pada malam ke-8 dari bulan Muharram, yaitu sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan sesajen adalah: nasi kebuli 1 porsi, kopi pahit 1 gelas, air serobat 1 gelas, telur dadar 1 buah, lauk pauk 7 piring (7 macam jenis lauk).

6)      Arak Seroban (mengarak Sorban)
Arak Serban merupakan acara mengarak Penja ditambah dengan Serban (Sorban) putih dan diletakkan pada Tabot Coki (Tabot Kecil). Tabot Coki ini dilengkapi dengan bendera/panji-panji berwarna putih dan hijau atau biru yang bertuliskan nama “Hasan dan Husain” dengan kaligrafi Arab yang indah. Kegiatan ini diadakan pada malam ke-9 Muharram sekitar pukul 19.00-21.00 WIB.
Sebagai mana namanya, maka peralatan yang dibutuhkan dalam acara ini adalah Tabot dan seroban. Selain itu, juga dibutuhkan kain khusus dan Tabot Coki (kursi kerajaan/tahta).

7)      Gam (tenang / berkabung)
Satu di antara tahapan upacara Tabot yang harus ditaati adalah “gam”. Gam adalah waktu yang tidak boleh ada kegiatan apapun. Gam berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup atau terhalang. Tanggal 9 Muharram merupakan masa gam ini, yakni sejak pukul 07.00 hingga pukul 16.00 WIB, di mana pada waktu tersebut semua kegiatan yang berkaitan dengan upacara Tabot termasuk membunyikan dol dan tassa tidak boleh dilakukan. Jadi masa gam dapat juga disebut masa tenang.
8)      Arak Gedang (taptu akbar)
Pada 9 Muharram malam, sekitar pukul 19.00 WIB dilaksanakan ritual pelepasan Tabot Besanding di gerga (markas) masing-masing. Selanjutnya dilanjutkan dengan arak gedang yakni grup Tabot berarak dari markas masing-masing menempuh rute yang ditentukan. Kemudian mereka akan bertemu sehingga membentuk arak gedang (pawai akbar). Arak-arakan ini menjadi ramai karena menyatunya grup-grup Tabot, grup-grup hiburan, para pendukung masing-masing serta masyarakat. Acara ini berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. 
Akhir dari acara arak gedang ini adalah seluruh Tabot dan grup penghibur berkumpul di lapangan Merdeka Bengkulu (Sekarang: Lapangan Tugu Propinsi). Tabot dibariskan bershaf istilah lokal disandingkan, karenanya acara ini dinamakan Tabot Besanding.
Peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan ini adalah gerobak. Gerobak ini digunakan untuk mengangkut Tabot ke tempat Tabot dikumpulkan.

9)      Tabot Tebuang (Tabot terbuang)
Acara terakhir dari rangkaian upacara Tabot adalah acara Tabot tebuang yang diadakan pada tanggal 10 Muharram. Pada pukul 09.00 WIB seluruh Tabot telah berkumpul di lapangan Merdeka dan telah disandingkan sebagaimana malam Tabot besanding. Grup hiburan telah berkumpul pula di sini dan menghibur para pengunjung yang hadir di waktu itu. 
Pada sekitar pukul 11.00 arak-arakan Tabot bergerak menuju ke Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual Tabot tebuang karena di sini dimakamkan Imam Senggolo (Syekh Burhanuddin) pelopor upacara Tabot di Bengkulu.
Pada sekitar pukul 12.30 WIB acara Tabot Tebuang di makam Senggolo tersebut. Karena dipandang bernilai magis, acara ini hanya bisa dipimpin oleh Sesepuh Tabot yang tertua. Selesai acara ritual di atas, barulah bangunan Tabot dibuang ke rawa-rawa yang berdampingan dengan komplek makam tersebut. Dengan terbuangnya Tabot pada sekitar pukul 13.30 WIB, maka selesailah seluruh rangkaian upacara Tabot dimaksud.

Friday, 26 August 2016

Dayak Pesonamu, Amazing!


Pesona Suku Dayak yang memukau
Satu dari sekian ribu suku di tanah ibu pertiwi Indonesia adalah Dayak yang keberadaan aslinya ada  di Pulau Kalimantan. Suku Dayak merupakan penduduk yang mendominasi populasi di hampir seluruh wilayah Pulau Kalimantan. Menurut bahasa lokal Kalimantan, Dayak berarti orang yang tinggal di hulu sungai. Masuk akal memang, karena memang suku Dayak bertempat tinggal pada hulu-hulu sungai besar di Kalimatan.

Bagi kita yang bukan penduduk asli Kalimatan, beranggapan bahwa suku Dayak hanya ada satu jenis saja, sungguh salah besar! Sebenarnya mereka terbagi ke dalam banyak sub-sub suku. Menurut hasil penelitian para ahli dan pakar terdapat sekitar 405 sub suku Dayak yang memiliki kesamaan sosiologi kemasyarakatan namun berbeda dalam adat-istiadat, budaya dan bahasa yang digunakan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh terpencarnya masyarakat Dayak menjadi kelompok-kelompok kecil dengan pengaruh masuknya kebudayaan luar.

Selain itu, Suku Dayak juga terbagi ke dalam Dayak Muslim dan Non Muslim. Yang termasuk Dayak Muslim adalah Suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Bukit, Suku Dayak Sampit, Suku Dayak Paser, Suku Dayak Tidung, Suku Dayak Melanau, Suku Dayak Kedayan, Suku Dayak Embaloh, Suku Dayak Sintang, Suku Dayak Sango dan Suku  Dayak Ngabang.

Sedangkan suku Dayak Non Muslim jumlahnya lebih banyak lagi. Yaitu Suku Dayak Abal, Suku Dayak Abai, Suku Dayak Banyadu, Suku Dayak Bakati, Suku Dayak Bentian, Suku Dayak Benuaq, Suku Dayak Bidayuh, Suku Dayak Darat, Suku Dayak Dusun, Suku Dayak Dusun Deyah, Suku Dayak Dusun Malang, Suku Dayak Kenyah, Suku Dayak Lawangan, Suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Mali, Suku Dayak Mayau, Suku Dayak Meratus, Suku Dayak Mualang, Suku Dayak Ngaju, Suku Dayak Ot Danum, Suku Dayak Samihim dan lain-lain yang diperkirakan jumlahnya mencapai tiga ratus sub suku.

Setiap sub suku Dayak memiliki budaya yang unik dan memberi ciri khusus pada komunitasnya. Misalnya tradisi memanjangkan telinga yang dilakukan oleh wanita suku Dayak Kenyah, Kayan dan Bahau. Lalu ada juga tradisi kayau atau perburuan kepala tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi musuh suku Dayak Kendayan.

Mengulas suku satu ini, teringat saya ketika ada kegiatan expo di kota Solo tahun 2008, dimana saya berkenalan dengan salah seorang gadis Suku Dayak, yang tidak pernah salah lupa, orangnya cantik dan lemah lembut serta berpakaian lengkap dengan aksesoris khas Dayak yang sangat memukau. Kapan bisa ke Kalimantan ya?

Tuesday, 23 August 2016

Ngarai Sianok, Dream Land Of Sumatera


Panorama Alam Lembah Ngarai Sianok
Lembah ini memang sungguh elok nan menawan, terletak di Gunung Singgalang - Sumatera Barat. Ngarai Sianok namanya, lembah mempesona ini berada di perbatasan kota Bukittinggi, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Diperkirakan lembah ini memanjang dan berkelok sejauh 15km, lebarnya 200m dan curam dalamnya 100 meter.

Ngarai Sianok  merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.


Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yang disaranai oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari nagari Lambah sampai jorong Sitingkai nagari Palupuh selama kira-kira 3,5 jam. Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, dan juga tapir.

Karena dialiri "Batang Sianok" yang artinya sungai yang jernih, ngarai atau lembah ini disebut Ngarai Sianok. Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yg disaranai oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari Desa Lambah sampai Desa Sitingkai Batang Palupuh selama kira-kira 3,5 jam

Ngarai Sianok yang juga kerap disebut sebagai “Dream Land of Sumatera” memiliki panorama alam yang sangat mempesona dan udaranya begitu sejuk. Laksana selimut beludru hijau dikelilingi perbukitan asri, inilah penampakan lembah indah ini bila dilihat dari atas. Pada bukit-bukit di Ngarai Sianok tumbuh tanaman langka seperti Rafflesia atau Bunga Bangkai, tanaman obat-obatan, dan lain sebagainya. Di dasar ngarai Anda bisa berjalan-jalan santai, menyapa penduduk setempat yang tinggal di area permukiman di sekitarnya.

Ketika matahari terbit menyibak langit Minangkabau dan muncul dari celah-celah lereng ngarai dengan cahaya menyilaukan, atau saat “sang raja siang” itu bersiap rebah menjelang senja dengan meninggalkan jejak-jejak jingga di sisi dinding ngarai, merupakan pemandangan indah yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Untuk mencapai Taman Panorama Ngarai Sianok yang berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Bukittinggi (kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas) dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan atau berjalan kaki sembari menikmati kesejukan udara Bukittinggi. Pemandangan Ngarai yang memukau bisa dinikmati dari sana seraya melihat kelincahan monyet-monyet ngarai yang hidup bebas di kawasan Taman tersebut.