Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Wednesday, 7 September 2016

Danau Dendam Tak Sudah

Danau Dendam Tak Sudah (photo : adieb)
Di Kota Bengkulu, terdapat sebuah danau indah yang disebut Danau Dendam Tak Sudah, yang oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Danau yang terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya ini telah mengalami beberapa kali perluasan area.

Pertama, tahun 1936, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan ini sebagai cagar alam melalui Stb 1936 No. 325 tanggal 17 Juni 1936 dengan luas 11,5 hektar. Kedua, tahun 1979, berdasarkan Surat Gubernur Bengkulu No. 1666/B4-1/1979 tanggal 15 Mei 1979, kawasan ini dipeluas menjadi 430 hektar. Ketiga, tahun 1999, melalui SK Menteri Kehutanan No. 420/Kpts-II/1999 tangal 15 Juni 1999, kawasan cagar alam Danau Dendam Tak Sudah bertambah luas menjadi 577 hektar.

Kawasan Danau Dendam Tak Sudah merupakan kawasan cagar alam yang memiliki keindahan alam yang mempesona dan menyimpan banyak potensi bagi kelestarian ekologi dan keseimbangan ekosistem. Danau yang dikelilingi bukit-bukit berhutan lebat ini merupakan habitat utama bagi tumbuhan endemic langka, yaitu anggrek pensil (Vanda hookeriana). Pada tahun 2003, Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kota Bengkulu, menyebutkan ada lima fungsi utama yang diperankan oleh Danau Dendam tak Sudah, yaitu: (1) sebagai kawasan konservasi bagi keanekaragaman hayati; (2) sebagai sumber air yang digunakan untuk keperluan irigasi; (3) sebagai daerah cadangan air; (4) sebagai media pembelajaran alam untk kepentingan ilmiah; dan (5) sebagai tempat rekreasi.

Di danau ini juga hidup beberapa jenis ikan langka yang berasal dari famili Anabantidae, yaitu Trichogaster trihopterus, Helstoma termminchi, Trichogaster pectoralis, Anabas testudieus, dan Polcampus hasselti, dari famili Bagridae yaitu Mystus sp, dan dari famili Cyprinidae yaitu Mystacoleucus marginatus dan Rasbora sumatranus.

Friday, 2 September 2016

Anggrek Pensil, Flora Langkah di DDTS

Anggrek Pensil

DDTS adalah singkatan dari Danau Dendam Tak Sudah. Nama danau ini memang terasa aneh, menyeramkan dan belum seakrab danau-danau besar, seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Maninjau dan Danau Singkarak di Sumatera Barat dan Danau Ranau di Lampung.

Namun pesona Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) di Bengkulu ini tidak kalah indah dan eksotik. Memang, saat ini belum banyak wisatawan yang mengenal danau yang hanya berjarak sekitar 6 km dari pusat Kota Bengkulu itu.

Menilik dari namanya saja, Danau Dendam Tak Sudah sudah menyiratkan sebuah kisah tragis di baliknya. Nama danau ini diyakini terkait dengan legenda sepasang muda-mudi. Mereka mengikat janji sehidup semati, namun kisah asmara mereka tak kesampaian. Dia dijodohkan dengan laki-laki lain, padahal benih-benih cinta di hati kedua remaja ini tidak bisa dipisahkan lagi.


Lalu kedua anak muda yang dimabuk asmara itu bunuh diri ke dalam danau. Konon sejak itu di dalam danau terdapat dua ekor lintah besar, yang merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut.

Di masa Belanda, danau ini kemudian dibuat dam, agar lebih tertata dan tidak mudah meluap serta memudahkan pembuatan jalan. Bukti-bukti dam itu bisa terlihat hingga kini. Namun setelah merdeka pembangunan dam terbengkalai. Dam yang tak selesai itu menginspirasikan warga setempat untuk menamainya menjadi Dam Tak Sudah dan kata “Den” di depan kata “Dam” hanyalah merupakan “kerancuan” yang sengaja ditimbulkan untuk menggelitik rasa ingin tahu.

Danau seluas 37,50 hektare itu memiliki keunikan yang tidak dimiliki danau lainnya. Di bawah Danau Dendam Tak Sudah, konon terdapat gunung berapi.

Danau ini juga memiliki berbagai flora unik, yakni anggrek Pensil (vanda hookeriana), yang diyakini hanya tumbuh di kawasan ini. Flora unik yang lain adalah anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis dan sikeduduk.

Panorama di kawasan danau juga sangat indah. Sejauh mata memadang, pengunjung akan dimanja lanskap Bukit Barisan yang membiru dan terlihat sayup-sayup di kejauhan.

Di seputar danau kini menjadi kawasan cagar alam karena menjadi plasma nuftah bagi anggrek pensil. Juga ditemukan berbagai fauna seperti kera ekor panjang, lutung, burung kutilang, babi hutan, ular phyton, siamang, siput dan berbagai jenis ikan termasuk ikan langka seperti kebakung dan palau.

Perambahan cagar alam telah mencapai 70 persen dari luas kawasan, terutama di sepanjang kiri jalan air Sebakul-Desa Nakau. Perambahan ini telah mengancam kondisi fisik kawasan serta sejumlah flora dan fauna yang kini mulai sulit ditemui.

Beruntung, anggrek pensil yang merupakan flora unggulan Danau Dendam Tak Sudah, hingga kini masih bisa dinikmati pengunjung. Anggrek dengan bunga putih dipadu warna ungu dan bintik-bintik hitam, seperti dilansir Kapanlagi, selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke danau itu.  Lutung dan kera ekor panjang pun terkadang masih bisa terlihat bergelantungan di pohon-pohon. Namun fauna lain, kini mulai jarang ditemui.

Kini danau tersebut juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Kawasan ini merupakan penyuplai sebagian besar air untuk petani di kota Bengkulu serta penyimpan cadangan air tanah.

Cagar Alam Dusun Besar tempat danau ini berada memiliki topografi wilayah 0-8 persen. Ketinggian kawasan ini dari permukaan laut kurang lebih 15 meter. Bentukan lahan dari batuan yang menyusun kawasan terdiri dari batuan neogin (Pliosin dan Miosin).

Di kawasan danau, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam berupa permukaan danau yang terlihat kemerahan ditimpa sang surya menjelang beranjak keperaduannya. Atraksi matahari terbit disertai udara pagi yang bersih serta semburat warna merah di permukaan danau menjelang malam sangat ideal bila diabadikan dari lensa kamera.

Keasrian danau serta lingkungan cagar alam yang luas merupakan potensi bagi wisatawan minat khusus untuk melakukan pendidikan dan penelitian. Di lokasi ini, pengunjung juga bisa berperahu dan menggunakan rakit ke seluruh penjuru danau, dan memancing.

Beberapa warga di seputar danau menyediakan pondok-pondok yang menawarkan berbagai jenis makanan seperti jagung bakar dan kelapa muda. Beberapa makanan khas Bengkulu seperti perut punai, lempuk dan kue tat juga bisa dibeli di sekitar lokasi.

Thursday, 1 September 2016

Misteri Dibalik Keperkasaan Marlborough



Bangunan Benteng Marlborough [photo : adieb]
Usia boleh tiga abad, bencana boleh datang silih berganti. Namun keperkasaannya masih memperkaya khasanah situs peninggalan bersejarah di Indonesia. Siapa dia? Dia adalah Benteng Marlborough yang menjadi salah satu kebanggaan bagi Kota Bengkulu. Warisan bangunan kuno peninggalan Inggris terbesar di Indonesia itu bukan hanya legendaris dan populer namun juga menyimpan misteri.

Pada 2000 misalnya, kota Bengkulu digoyang gempa bumi tektonik kuat berkekuatan 7,3 skala Richter. Akibatnya, ribuan rumah penduduk, sekolah, dan perkantoran roboh. Sarana dan prasarana kota Bengkulu juga hancur dihantam gempa.

Tujuh tahun setelah itu, Bengkulu kembali dihantam gempa bumi dahsyat. Bencana alam kali ini diikuti tsunami setinggi 3,5 meter. Namun benteng yang dibangun Inggris pada tahun 1714 itu tetap berdiri kokoh. Benteng ini sangat perkasa dalam menghadapi gempa bumi yang memang kerap terjadi di Bengkulu.Walapun terus digoyang. Marlborough tak bergeming sedikit pun. 


Kondisi ini jelas menyimpan misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Apalagi konstruksi benteng ini, secara ilmiah dalam sudut pandang bangunan modern, tidak tahan gempa. Benteng ini ndak memiliki konstruksi beton bertulang.

Dengan kata lain, tak ada tiang-tiang dan kolom besi yang dicor dengan semen sebagaimana halnya dengan standar bangunan tahan gempa masa kini. Dindingnya hanya terbuat dari susunan bata merah. Ketebalan dindingnya bervariasi, antara 50 sentimeter sampai 1,8 meter. Bahkan, di bagian luar, ketebalan dindingnya mencapai tiga meter.Bahari bangunan yang dipakai juga sederhana untuk ukuran masa kini, yakni berupa baru karang, batu kali, dan bata merah dengan perekat menggunakan campuran kapur, pasir, dan semen merah. Pintu-pintunya terbuat dari kombinasi antara besi (sebagai tulang) dan papan kayu.

Tapi itulah uniknya, gempa tak mampu meluluhlantakkan keperkasaan bangunan kuno seluas 2,7 hektare. Semua bagian benteng mulai dari ruang penyimpanan senjata, barak pasukan, ruang jaga, sel militer, dan lain-lain tetap utuh. Keperkasaan ini semakin menguatkan cerita mistis yang beredar di balik benteng yang dibangun semasa Gubernur Joseph Callet berkuasa. Klop sudah karena Inggris memang salah satu negara di dunia yang amat terkenal dengan alam gaibnya. Rumor yang beredar di masyarakat Bengkulu, benteng ini dihuni oleh mahluk gaib. Beberapa pengunjung yang membidikkan kameranya di beberapa ruang tertentu kerap mendapati sinar aneh yang terekam dalam foto tersebut.

Terlepas dari rumor tersebut, Marlborough memang menyimpan kisah unik mengenai sepak terjang Inggris di Bengkulu. Bengkulu tempo dulu merupakan ibukota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di sepanjang pesisir barat Sumatra yang meliputi Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Semua kegiatan administrasi dikendalikan di Benteng Marlborough yang selesai dibangun pada tahun 1783.Bukan hanya itu. Benteng ini juga sekaligus dipakai sebagai sistem pertahanan bagi tentara Inggris dari serangan musuh-musuhnya. Benteng yang menghadap Samudra Hindia ini memang sangat strategis dalam memantau pergerakan musuh yang menyusup dari arah laut tersebut.

Di bagian paling atas benteng misalnya, kini kita dapat memandang betapa luasnya Samudra Hindia. Apalagai di kala sunset, tempat ini paling cocok untuk menikmati keindahan wama lembayung nan lembut dengan panorama penuh eksotis.Berkelana di kawasan Marlborough seluas 4,4 hektare memang mengasyikkan. Kita akan dibawa ke masa lalu yang penuh dengan dinamika. Beberapa meriam tercanggih pada masanya dipajang di berbagai tempat, seperti di bagian atas, halaman dalam, dan taman-taman. Begitu memasuki benteng, koleksi berbagai senjata meriam itu langsung menyergap pandangan.

Strategi pertahanan perang yang didesain tentara Inggris memang taktis. Sebelum memasuki gerbang utama (great gate) benteng, harus melewati dua jembatan kayu yang di bawahnya berupa parit yang dulunya selalu tergenang air. Jembatan ini tadinya bisa diangkat dan diturunkan sesuai kebutuhan. Kini, jembatan kayu itu tak bisa lagi diangkat dan diturunkan.Jika musuh datang, jembatan itu diangkat untuk menghambat musuh agar tidak merangsek ke dalam benteng. Kalaupun musuh masih dapat melewati parit, mereka juga harus berjuang ekstra keras. Pasalnya, benteng ini menggunakan sistem pertahanan berlapis.

Berada di dalam benteng, memang terasa unik. Benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertahanan semata. Lebih dari itu,benteng itu laksana sebuah kompleks hunian di tengah kota.

Konon gubernur, para petinggi, dan pegawai, termasuk militer yang berjumlah 90 orang bermukim dan berkantor di dalam benteng yang memang sangat luas. Mereka seperti layaknya hidup bermasyarakat. Terbukti berbagai catatan mengenai kelahiran, pembabtisan, perkawinan, hingga kematian dari para penguhuninya itu dapat kita lihat karena masih terdokumentasi.m dengan baik.Empat batu nisan berukuran besar diletakkan di salah satu dinding. Di situlah para petinggi Inggris dimakamkan. Sebut saja Deputi Gubernur Richards Watts. Lalu, tak jauh dari situ juga terdapat makam Residen Thomas ParT yang terbunuh pada Desember 1807 dan Sekretarisnya Charles Murray.

Anda penasaran untuk melihat dari dekat keunikan dan keperkasaan Benteng Marlborough? Silakan jelajahi pesonanya. Apalagi akses menuju ke bangunan peninggalan kolonial Inggris itu sangat mudah, hanya berjarak 600 meter dari Rumah Dinas Gubernur Bengkulu atau sekitar tiga kilometer dari Kawasan Simpang lima, Kota Bengkulu.

Wednesday, 24 August 2016

Tari Kecak dari Pulau Dewata

Tari Kecak dari Pulau Dewata Bali
Pustakabudaya - Ngomongin soal Bali, rasanya tidak ada yang tidak mengenalnya. Pulau yang berjuluk Pulau Dewata ini memang sudah dikenal luas di dunia. Malah, banyak orang luar lebih mengenal Bali daripada Indonesia-nya?


Pulau Bali memang menyimpan sejuta pesona, keberagaman penduduknya dan globalisasi tidak memudarkan budaya lokal yang terpelihara dengan baik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sebut saja salah satu seni tari yang berasal dari Bali ini yaitu Tari Kecak. Anda pernah dengar soal Kecak?


Menurut cerita rakyat Bali tarian ini muncul sekitar tahun 1930 an. Tarian ini biasanya dimainkan oleh puluhan penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dengan irama tertentu dan menyerukan kata “cak” sambil mengangkat kedua lengan. Lantaran menceritakan tentang kisah Ramayanan, barisan penari ini adalah perwujudan barisan kera yang sedang membantu Rama melawan Rahwana demi menyelamatkan kekasihnya Shinta.

Banyak masyarakat Bali yang mempercayai bahwa Kecak pada dasarnya berawal dari ritual Sanghyan, yakni sebuah tradisi tarian dimana penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar. Sang Penari melakukan tarian sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur. Para penari tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan cantur yang melingkari pinggang mereka. Selain puluhan penari tersebut, ada pula penari lain yang memerankan tokoh Rhama, Shinta, Rahwana, Hanoman dan Sugriwa.

Sejak tahun 1930, tari kecak terus mengalami perubahan dan perkembangan. Perkembangan tersebut terlihat dari segi cerita dan pementasan dimana cerita yang ditampilkan saat ini tidak hanya satu bagian dari kisah Ramayana. Dahulu pun tarian ini hanya bertempat di Desa Bona, Gianyar. Saat ini, Tari Kecak sudah dapat dijumpai dihampir seluruh daerah di Bali.

Dalam pertunjukan Tari Kecak memang sedikit unik. Musik yang mengiringi pertunjukan tari ini dihasilkan dari perpaduan suara anggota cak yang berjumlah 50-70 orang yang membuat musik secara akapela. Seseorang akan bertindak sebagai pemimpin dan memberikan nada awal, seseorang yang lain bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan pada nada tinggi atau rendah. Ada juga yang bertindak sebagai penembang solo serta dalang sebagai pelantun cerita.

Tari kecak memang sebuah karya budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Bukan hanya itu, pertunjukan Tari kecak ini memang selalu ditunggu dan mengundang decak kagum para penontonnya. Tari kecak yang merupakan buah karya kebudayaan Bali patut untuk dilestarikan mengingat posisinya sebagai ujung tombak serta produk budaya yang mengangkat citra dan posisi Indonesia di mata Internasional.

Monday, 22 August 2016

Raffles Jakarta

One of our top picks in Jakarta. Raffles Jakarta is strategically located in the central business district of Jakarta. This hotel also features unique art experience as it is linked to Ciputra Artpreneur Centre, an art gallery, museum and theatre complex.



Featuring luxurious rooms with soothing colours and warm décor, the stylish air conditioned rooms are fitted with plush sofa and marble flooring, the room is also equipped with a flat-screen cable TV and complete with a laptop safe. An electric kettle and minibar are also provided. The large en suite bathroom comes with a bathtub, hairdryer and a shower.

Raffles Jakarta operates a 24-hour front desk that provides luggage storage, concierge and laundry/dry cleaning services. A business centre, children's playground and meeting/banqueting facilities are available. Airport transfer, babysitting service and day trips can also be arranged with an additional charge. Other facilities offered on-site include currency exchange, fitness centre, an outdoor swimming pool and a tennis court. Relaxing treatments can be enjoyed at the spa and wellness centre.

Delicious Continental and Asian food can be enjoyed at Arts Cafe by Raffles. Other sumptuous refreshments can also be sampled at Navina Poolside Bar and Writers Bar.
The hotel is a 5-minute walk to Ciputra Artpreneur Centre and a 15-minute drive to Grand Indonesia Shopping Centre as well as Plaza Indonesia. It takes 45 minutes' car ride to reach Jakarta Soekarno Hatta Airport.

Free WiFi access is available throughout the property.
Setiabudi is a great choice for travellers interested in friendly people, business and nightlife.
This property is also rated for the best value in Jakarta! Guests are getting more for their money when compared to other properties in this city.
We speak your language!
Raffles Jakarta has been welcoming Booking.com guests since 5 Jun 2015
Hotel Rooms: 173, Hotel Chain: Raffles 

Location:  Jalan Prof. Dr. Satrio Kav. 3-5, Setiabudi, 12940 Jakarta, Indonesia Great location - show map

You've found a property that offers these popular facilities:

Free WiFi
Outdoor pool
Airport shuttle (surcharge)
Spa and wellness centre
Fitness centre
Family rooms
Non-smoking rooms
Free parking
Restaurant

Alila Seminyak

Alila Seminyak: One of our top picks in Seminyak. Located in Seminyak, this luxurious 5-star resort is set on the beachfront. It has an outdoor swimming pool, a spa and a fitness centre. WiFi is provided for free and available in all areas. Guests also enjoy complimentary scheduled shuttle service to nearby area.

The air-conditioned elegant rooms and suites offers a refined décor and electric kettle. Some rooms feature a balcony, a personal safe and a flat-screen TV.




Vehicle rental, day trips and area shuttles can be arranged by staff at the tour desk, while luggage can be stored at the 24-hour front desk. Guests who wish to stay in can relax on the sun terrace by the pool or indulge in a pampering massages. Other facilities offered include laundry, dry cleaning and ironing services. Kids club and babysitting services are also available.

A fine selection of Asian cuisine can be enjoyed at the on-site restaurant, while the famous Ku De Ta is just a 4-minute drive away.

Alila Seminyak is an 8-minute walk from Potato Head and a 30-minute drive from Ngurah Rai Airport.

This property is also rated for the best value in Seminyak! Guests are getting more for their money when compared to other properties in this city.
We speak your language!
Alila Seminyak has been welcoming Booking.com guests since 1 Sept 2015
Hotel Rooms: 240, Hotel

Address: Jalan Taman Ganesha no. 9, Petitenget, 80361 Seminyak, Indonesia Great location - show map 

Read a review from Travelweekly here:
"Those in-the-know are now flocking to Alila Seminyak, which emphasises a movement towards wellness with its zen-like surrounds. Of course, wellness doesn’t come without the cocktails. There’s that too. The point is, you can choose between a healthy stay or a hedonistic one, or both. With zero judgment.":